Jumat, 11 Januari 2013

Filologi



ASPEK KEPATUHAN HAMBA KEPADA TUHANNYA
DAN BALASAN KEPATUHANNYA
(Kajian Filologi Teks Agama terhadap Masyarakat)
Oleh Yuneni Novikawati
072144043

1.      PENDAHULUAN
a.                              Latar Belakang
Filologi dan kebudayaan adalah dua istilah yang dalam cabang-cabang ilmu bisa dibicarakan dan membicarakan objek-objek kajiannya secara tersendiri. Tetapi substansi dari apa yang dibicarakan oleh filologi dan kebudayaan sebagai ilmu, pada dasarnya adalah tak terpisahkan.  Dilihat sebagai cabang-cabang ilmu tersendiri karena masing-masing telah memiliki fokus kajian, teori dan metodologi pendekatan serta tujuan yang hendak dicapai. (Mudjahirin Thohir). Keduanya, relatif berbeda. Sedang substansi dari apa yang ingin diketahui oleh ilmu filologi dan ilmu kebudayaan untuk hal-hal tertentu adalah sama, yakni: artefak.
Filologi dan agama adalah salah satu aspek ilmu yang terikat. Melimpahnya  teks-teks  keagamaan -terutama  dengan  unsur tasawuf. ini  memang  tidak  terlalu  mengherankan,  terutama  jika mengingat  bahwa  kebudayaan  yang  dimiliki  bangsa  Indonesia  hingga dewasa  ini  secara  keseluruhan  merupakan  hasil  dari  proses  akulturasi manusia  Indonesia  dengan  peradaban  Islam  yang  oleh  Edi  Sedyawati disebut sebagai salah satu dari tiga pengalaman besar dalam akulturasi di Indonesia  (lihat  Sedyawati,  “Menyikapi Warisan  Budaya”  dalam Media Indonesia, 25 Maret 2000). Apalagi, diketahui bahwa sejak abad 13, bangsa Indonesia  telah  didatangi  oleh  para  ulama  sufi  yang  dalam  proses penyebaran  Islam banyak pula menghasilkan berbagai  tulisan, yang kini tersimpan dalam bentuk naskah, menyangkut ajaran-ajaran tasawuf yang mereka sampaikan kepada masyarakat setempat (Azra 1995: 32).
            Kritik  teks dapat dianggap  sebagai  salah  satu  tahap  terpenting dari sebuah  penelitian  filologi.  Kata  “kritik”  itu  sendiri  bisa  berarti ‘sikap menghakimi  dalam  menghadapi  sesuatu’  sehingga  dapat  berarti ‘menempatkan  sesuatu  sewajarnya’  atau  ‘memberikan  evaluasi’.  Jadi, kritik  teks  berarti  ‘menempatkan  teks  pada  tempat  yang  sewajarnya, memberikan  evaluasi  terhadap  teks,  serta  meneliti  atau  mengkaji lembaran naskah’ (Maas, 1972).  Dalam  konteks  filologi,  kritik  teks  sering  kali  ditujukan  untuk mendapatkan  bentuk  teks  yang  asli,  teks  yang  otentik, yang ditulis  oleh pengarang  sendiri  (otograf).  Target  seperti  ini  sebenarnya  jarang  sekali terpenuhi, oleh karenanya, sebuah kritik teks paling tidak ditujukan untuk dapat mencapai ketetapan teks (constitutio textus), yaitu teks tersebut bisa sedekat  mungkin  dengan  aslinya,  bersih  dari  penyimpangan-penyimpangan  atau  kekeliruan,  sehingga  ia  bisa  dianggap  sebagai  tipe mula atau naskah arketip (archetypus). Kalau naskah arketip ini pun tidak berhasil  dijumpai,  maka  biasanya  penelitian  diarahkan  untuk  mencari naskah tertua, yang selanjutnya dijadikan sebagai landasan penelitian. Hal ini  pernah  dilakukan  oleh  L.  F.  Brakel    ketika  menyunting  30  naskah.
Berdasarkan hal di atas, melalui judul Aspek Kepatuhan Hamba Kepada TuhanNya dan Balasan Kepatuhannya akan terjabarkan dengan menganalisis teks yang ada di dalamnya.

b.                  Rumusan Masalah
Bagaimana aspek kepatuhan amba kepada TuhanNya dan balasan kepatuhannya terhadap masyarakat?

2.      PEMBAHASAN
Aspek Kepatuhan Hamba Kepada Tuhannya Dan Balasan Kepatuhannya Terhadap Masyarakat
Diceritakan dala  teks tersebut mengenai beberapa hal yang dicontohkan oleh nabi-abi yang dalam teks ini adlah nabi Ibrahim yang telah mencontohkan kebaikan untuk kepatuhan kepada Tuhannya yaitu dengan berzakat dan haji. Kepatuhan yang dilakukan oleh nabi Ibahim akan berbuah dengan kebaikan pula.
Nabi Ibrahim ulane ana telasan.zakat fitrah nganggo haji. Segawehi poro nabi anglalat.........ln marita puniku. Nabi bisa maring ika

Aspek kepatuhan hamba kepada Tuhannya diwujudkan dengan mengatakan siapa yang bisa menggungguli di dunia ini, hanya Tuhan semesta alam. Tuhan yang memberikan kuasany, Tuhan yang menciptakan seluruhnya alam  semesta ini. Dijelaskan bahwa “Yang Agung arso nungkuli maring dunyo iki” adalah tidak ada yang menyamai kekuasaan selain Nya. Tuhan penipt langit dan bumi.
Yang Agung arso nungkuli maring dunyo iki.
Tuhan Yang paling unggul di dunia ini.
Ing wong ngabekti maring Sang Yang Agung.
Yang berbakti kepada Tuhan Yang Maha besar
Kang sangking haji bareng ingsun temanggi.
Yang pulang dari haji meninggikan diri
Pangiro-iro ana angsulana malikat anulya anawun.
Yang akan dibalas melalui malaikat.
sira maring pangeran.
Kamu kepada Tuhan
sapa wani marang Yang Widi.
Siapa yang berani epada Hyang Widi
Malikat gelnis nembut anging mulya angkasi sarwarin sekadap.
Malaikat yang mulia

Siapa yang tidak patuh kepada Tuhannya, ia akan masuk neraka. Hal ini dikatakan lebih lanjut mengenai bahwa di akhir nanti akan ada hukuman masuk jurang neraka jahim bagi orang-orang yang munafik yang ingkar terhadap sabda Nabi. Aturan ini biasanya diperuntukkan bagi manusia yang hanya bekata patuh jika ia dihadapkan dengan kebenaran, namun setelah itu ia berpaling jika ia dihadapkan dengan perbuatan dosanya kembali.
Panajan Jahanam jurang.
Dimasukkan ke dalam jurang jahanam
Terus kaping sanga,
Kemudian ke sembilan
saking bumi mungang alim pangkur nara urip iku wong
dari bumi mengaku orang alim yang hidup dengan kemunafikan
munafik jero iki parapat lawang tiga mansulana nipun
naraka jahim wastaniya pernahipun makhluk munkar namung nabi lawang kaping papat
orang munafik yang di dalamnya pernah ingkar kepada nabi

Yang dicontohkan adalah Nabi Muhammad kekasihNya
yang selalu memberi salam dalam setiap orang yang mendatanginya. Dalam hal in aspek kepatuhan dalam memberi salam kepada orang lain adalah salah satu wujud kebaikan. Jika ajaran Muhammad diterapkan oleh umatnya maka kebaikan dan kasih yang Tuhan berikan akan berlimpah kepadanya.
Muhammad kekasih nami
Ingsun pan akintun salam
Sampun salam ing wong
Tekaha maring
Dijelaskan bahwa aspek tersebut tiak sebagian meniru perilaku Nabi Muhammad, tapi keseluruhan. Nabi Muhammad diberitahu oleh Jibril mengenai parintah Tuhan tentang segalanya. Ini terbukti saat kisah Nabi Muhammad saat bertapa di Gua. Perintah dari Tuhan yang disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril                                    
                                   
Dusa paran makhluk ika, Jibril aturi, amungkur pataryan Tuhan, angala riwangiki, Muhammad pan lumaris, wong kang kaduluh
Dikisahkan dalam teks bahwa aspek kepatuhan tersebut dicontohkan oleh Malaikat jibril saat memberitahu kepada Nabi Muhammad dengan nada yang sangat halus. Perintah untuk sholat, zakat, dan puasa adalah perintah Tuhan yang Maha Kuasa untuk disebarkan kepada umatoleh nabi Muhammad.                 

Becet dina alune, arsa sholat zakat fitri puasa. Malaika Nyahur bersabda, sibar marintah yang Widi, Nabi ngendika,maring malaikat Jibril. Dosa paran pawistri, Jirl alon terus matur, mungkir paduka Tuhan.

SIMPULAN
            Aspek kepatuhan yang diajarkan kepada para Nabi adalah hanya semata-mata dituntun kepada umat untuk disebarkan. Kepatuhan Malaikat kepada Tuhan, kepatuhan Nabi Ibrahim kepada Tuhannya, serta kepatuhan Nabi Muhammad kepada Tuhannya. Dalam hal ini, yang menjadi beberapa analisis teks di atas adalah bahwa ara Nai adalah makhluk yang mulia sehingga diperkenankan untuk mnyebarkan perintah Tuhan. Adapun beberapa hal yang dijadikan kepatuhan umat terhadap teks di atas bahwa hamba Tuhan harus senantiasa melaksanakan perintah Tuhan seperti apa yang telah paa nabi ajarkan mengenai sholat, haji, dan zakat. Semua itu hanya untuk emata-mata kebahagiaan dunia dan akhirat.
            Namun sebaliknya, apabila aturan ini tidak dipatuhi maka sanksi yang paling besar adalah hukuman bagi manusia itu sendiri. Manusia akan hancur. Terutama orang-orang munafik yang berkata benar saat mendapat kebenaran, tapitidak menjalankan kebenaran itu.

Senin, 06 Februari 2012

Tugas MK Karya tulis Ilmiah

ASPEK SOSIOLOGI EKONOMI DAN PENDIDIKAN

CERPEN ”PERNIKAHAN JU” KARYA LUTFIYAH ROMMATIN

DALAM KUMPULAN CERPEN PMCHAKC*


oleh: Yuneni Novikawati**


ABSTRAK



PMCHAKC merupakan singkatan dari kumpulan cerpen Pemenang Menulis Cerita Hak Anak-Anak dan Kemiskinan Calistung. Sembilan dari kumpulan cerpen tersebut telah dianalisis oleh Darmuji dalam skripsinya tahun 2004 yangberjudul “Aspek Sosiologi dalam Cerpen Pemenang Lomba Menulis “Cerita Hak Anak-Anak” dan Kemiskinan Calistung (sebuah Kajian Teks dan Konteks). Dalam penelitian ini dirumuskan masalah yaitu aspek sosiologi apa yang disajikan dalam cerpen “Pernikahan Ju Karya Lutfiyah Rommatin”dan hubungan aspek sosiologi cerpen ”Pernikahan Ju Karya Lutfiyah Rommatin dengan konteks yang ada dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kritis Abram, yaitu pendekatan objektif, ekspresif, mimetik, dan pragmatik. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalimat, kata, klaua, dan frasa yang terkandung di dalam kumpulan cerpen PMCHAKC. Berdasakan data yang ditemukan, maka teknik yang dipakai adalah teknik kodifikasi dan klasifikasi data. Hasil pembahasan menyatakan bahwa faktor nyata yang disebabkan oleh orang tua kepada anaknya dalam berpola pikir keras dan otoriter, kemudian menikahkan di usia muda (masa SMP) karena ketakutan dalam urusan ekonomi secara pasti menggagalkan anak tersebut meraih semua impian, cita-cita, harapan.


Key Words : Aspek Sosiologi, Teks, dan Konteks
PENDAHULUAN

Seni merupakan perwujudan dari sebuah aktivitas yang dilakukan secara berulang yang memiliki ciri dan karakter yang tidak tetap. Kehadiran sastra sebagai realitas budaya diterima sebagai satu bentuk karya seni yang kehadirannya di tengah-tengah peradapan manusia tidak dapat ditolak.

Darma (1984:54) menyatakan bahwa salah satu hakikat sastra adalah menggambarkan manusia sebagaimana adanya. Sastra merupakan refleksi lingkungan sosial budaya yang merupakan tes dialektika antara pengarang dengan situasi sosial yang membentuknya. Sastra dengan keistimewaan yang menonjol menuangkan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyimpangan tersebut ke dalam bentuk karya sastra. Dilihat dari segi fungsinya karya sastra mempunyai fungsi sosial dan fungsi estetik. Fungsi sosial adalah keterlibatan sastra dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, etik, kepercayaan dan lain-lain. Sedangkan fungsi estetik adalah penampilan karya sastra yang dapat memberikan muatan dan rasa keindahan bagi pembacanya (Semi, 1984:56).

Cerpen “Pernikahan Ju Karya Lutfiyah Rommatin” mengangkat permasalahan kehidupan anak dalam masyarakat. Anak sebagai generasi dalam kehidupan di masyarakat ternyata tidak puas dengan apa yang diterimanya dalam kehidupan kesehariannya. Sastra dalam hal ini, cerpen merupakan salah satu wahana media untuk mengungkapkan imajinasi mereka tentang hak-hak mereka yang tertindas oleh masyarakat. Kumpulan cerpen ini secara umum memberikan gambaran anak Indonesia dengan segudang permasalahannya. Tingkah laku dan lingkungan yang diceritakan dalam cerpen ini merupakan warna paten yang selalu ada dalam cerita. Tingkah laku dan lingkungan yang diceritakan dalam cerpen tersebut merupakan sebagian kecil dari permasalahan anak Indonesia yang dapat diketahui.


METODE PENELITIAN

1. Pendekatan Penelitian

M.H Abram (Pradotokusumo,2003: 63) memberikan berbagai pandangan para pakar tehadap karya sastra, bahwa karya sastra tidak hanya terdapat dalam sistem sastra. Dalam bidang teori sastra memiliki pendekatan yang beragam. Oleh karena itu kekacauan dan keragaman teori lebih mudah dipahami dan diteliti jika berpangkal pada situasi karya sastra secara menyeluruh (the total situation of work of art). Ia memberikan sebuah kerangka yang cukup efektif yang menggambarkan empat istilah dasar dalam situasi sastra secara menyeluruh.

Univere ‘semesta’

Artis ‘pencipta’ Audience ‘pembaca’


Dalam beberapa pendekatan kritis diatas, yaitu: 1) pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri (pendekatan objekif), 2) pendekatan yang menitikberatkan pada diri penulis (pendekatan ekspresif), 3) pendekatan yang menitikberatkan pada semesta (pendekatan mimetik), 4) pendekatan yang menitikberakan pada pembaca (pendekatan pragmatik). Maka penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi karena di dalamnya terdapat aktifitas analisis manusia dalam masyarakat dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu.


2. Sumber Data dan Data Penelitian

a. Sumber Data

Sumber data penelitian ini adalah sumber data tertulis (kepustakaan). Sumber data dalam penelitian ini adalah dua puluh cerita pendek pemenang Lomba Menulis “Cerita Hak Anak-Anak” dan Kemiskinan Calistung yang diterbitkan oleh Plan Indonesia Surabaya pada bulan Juni 2004 dalam buku berjudul “Merayakan Kemerdekaan Imajinasi Anak-Anak Kita”. Sumber data tersebut terdapat dalam buku Merayakan Kemerdekaan Imajinasi Anak-Anak Kita.

Penelitian ini menggunakan teknik sampel pemilihan data, yaitu sampel yang bertujuan untuk purposive sample (Arikunto, 2002:11). Melalui teknik tersebut, maka pengkodean yang dilakukan adalah bentuk pengkodean dari singkatan dari Merayakan Kemerdekaan Imajinasi Anak-Anak Kita yaitu MKIAAK.


b. Data Penelitian

Data penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan fakta-fakta kebahasaan yang berupa kutipan-kutipan, kata, frasa, klausa, kalimat, penggalian alinea, yang berkaitan dengan penelitian. Data tersebut kemudian dijadikan sebagai dasar pendeskripsian permasalahan dalam penelitian.


3. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara kodifikasi data dan klasifikasi data. Yaitu melakukan pengkodean sesuai dengan pemilahan pada data. Pengkodean tersebut dilakukan karena mempermudah pemilahan dalam pengumpulan data. Kemudian klasifikasi data adalah pemilahan secara rinci dan teliti agar data yang digunakan dipastikan tidak megalami pencampuradukan.


4. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analisis dan metode deskriptif. Supratno (1990:283) mengemukakan bahwa metode content analisis adalah metode analisis yang menitikberatkan pada makna yang terdapat dalam data.

Proses analisis data dalam penelitian ini adalah telaah data dan analisis data. Telaah data dilakukan sebagai langkah menelaah seluruh data yang tersedia dari sumber data yang telah diklasifikasi. Analisis data dilakukan dengan mengolah dan mendeskripsikan data yang telah diklasifikasi dengan menggunakan metode tertentu.


5. Prosedur Penelitian

Secara keseluruhan, proses penelitian ini terbagi atas beberapa tahap. Tahap ini bertujuan sebagai jenjang kegiatan untuk memperoleh data yang lebih objektif. Tahap tersebut meliputi: 1) tahap perencanaan, tahap ini terdiri atas tahap menentukan judul, melakukan studi pustaka berdasarkan perkembangan permasalahan dalam penelitian dan menyusun kerangka teori sebagai pisau analisis dalam penelitian.

Sabtu, 07 Januari 2012

TINDAK TUTUR DAN PRINSIP KOOPERATIF

note: mohon teman-teman yang ingin mengambil referensi, cantumkan nama penulisnya. terima kasih


KOMUNIKASI ANAK TUNA GRAHITA DI KELAS VIII SLB-C ALPA KUMARA WARDHANA I SURABAYA

Yuneni Novikawati

ABSTRAK

Kata kunci: anak tunagrahita, tindak tutur, dan prinsip kooperatif.

Penelitian skripsi yang berjudul “Tindak Tutur dan Prinsip Kooperatif Komunikasi Anak Tunagrahita di Kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya” dilatarbelakangi bahwa tidak semua masyarakat Indonesia tumbuh dan berkembang dengan normal. Pertumbuhan yang tidak normal memengaruhi pikiran dan menimbulkan gangguan komunikasi. Pengaruh dan gangguan tersebut berakibat pada pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur serta penerapan prinsip kooperatif anak tunagrahita. Secara umum, rumusan masalah yang didapat adalah bagaimana tindak tutur dan penerapan prinsip kooperatif anak tunagrahita di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya. Secara khusus, rumusan masalah adalah 1) bagaimana pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur anak tunagrahita dalam komunikasi siswa tunagrahita dan guru di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya, 2) bagaimana pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur anak tunagrahita dalam komunikasi antarsiswa di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya, 3) bagaimana penerapan prinsip kooperatif anak tunagrahita dalam komunikasi siswa tunagrahita dan guru di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya, 4) bagaimana penerapan prinsip kooperatif anak tunagrahita dalam komunikasi antarsiswa di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur serta penerapan prinsip kooperatif anak tunagrahita di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk 1) memberikan deskripsi tentang pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur anak tunagrahita dalam komunikasi siswa tunagrahita dan guru di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya, 2) memberikan deskripsi tentang pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur anak tunagrahita dalam komunikasi antarsiswa di kelasVIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya, 3) memberikan deskripsi tentang penerapan prinsip kooperatif anak tunagrahita dalam komunikasi siswa tunagrahita dan guru di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya, 4) bagaimana penerapan prinsip kooperatif anak tunagrahita dalam komunikasi antarsiswa di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya.
Teori yang digunakan untuk menjawab masalah-masalah dalam penelitian ini adalah teori tindak tutur Austin dan Searle serta prinsip kooperatif Grice. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan sumber data berjumlah empat orang yang terdiri atas satu guru dan tiga siswa tunagrahita. Data penelitian yang diambil berupa tuturan guru dan siswa di kelas VIII SLB-C Alpa Kumara Wardhana I Surabaya. Teknik memasuki lokasi penelitian adalah dengan cara formal melalui surat izin dan proposal. Peran peneliti adalah sebagai peneliti terbuka. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan simak bebas libat cakap dan teknik analisis data menggunakan teknik padan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak tunagrahita mampu memahami dan melaksanakan tindak tutur yang diinginkan dan dimaksudkan guru. Pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur yang digunakan anak tunagrahita tersebut adalah tindak tutur representatif menyebutkan seperti mengeja kata-kata, menyebutkan nilai mata uang, dan menyebutkan warna pada gambar lampu lalu lintas. Anak tunagrahita mampu memahami gambar dan peragaan yang disampaikan guru. Pemahaman dan pelaksanaan tindak tutur yang dilakukan anak tunagrahita ditemukan adalah tindak tutur melaporkan, sesuatu yang dianggap sebagai suatu kesalahan seperti melaporkan temannya yang terlambat datang ke sekolah dan ramai di kelas. Tindak tutur yang dipahami dan dilaksanakan oleh anak tunagrahita dalam komunikasi antarsiswa berupa komunikasi nonverbal. Tindak tutur yang dilakukan anak tunagrahita dalam komunikasi antarsiswa hanya dilakukan oleh satu orang tetapi tidak direspon oleh temannya. Selanjutnya, prinsip kooperatif yang diterapkan anak tunagrahita dalam komunikasi antara siswa tunagrahita dan guru adalah penerapan maksim hubungan dan maksim cara. Anak tunagrahita dapat menerapkan keterkaitan tuturan guru baik verbal maupun nonverbal. Anak tunagrahita menerapkan cara bertutur kepada guru dengan pemakaian kalimat sederhana, langsung, dan jelas. Prinsip kooperatif yang diterapkan anak tunagrahita dalam komunikasi antarsiswa adalah prinsip maksim hubungan dan maksim cara. Maksim hubungan yang diterapkan siswa tunagrahita adalah berupa tuturan nonverbal seperti tuturan permintaan yang diinginkan anak tunagrahita dan direspon dengan tuturan nonverbal dengan siswa lainnya. Maksim cara yang diterapkan anak tunagrahita yaitu anak menuturkan kalimat pertanyaan dan pernyataan dengan sederhana dan jelas.

Selasa, 13 Desember 2011

treatment lamia (tugas penyutradaraan)

LAMIA

Perempuan selalu memiliki sedikit pilihan, bahkan seringkali tidak memiliki pilihan-pilihan. Pun dengan Lamia. Hati lamia terluka ketika ibunya tiada. Dan kemudian ayahnya hendak menjual toko buku kesayangannya. Bagi Lamia, buku merupakan bagian dari sejarah hidup. Lenyapnya buku membuat separuh jiwanya terbang. Ditambah lagi sang ayah mengajak Lamia pindah ke desa. Ia tinggalkan cita-cita yang hendak digapainya. Dalam dunia patriakal, seorang anak memang harus patuh pada orang tuanya.

TREATMENT

Pengenalan tokoh : Lamia, Ayah, Nyonya Pemilik Penginapan

Setting : dirumah, di desa, di penginapan, dll

Pemunculan konflik : saat pekerjaan ayahnya terkena PHK, dan suasana terjepit. Lamia di ajak ke desa untuk pindah

Babak I

Tangan ayahnya melambai-lambai dengan maksud kabar setelah Lamia pulang dari sekolahnya. Lamia merasa kebingungan apa yang terjadi dan yang ingin dikatakan ayahnya sehingga ia harus melambaikan tangannya jauh-jauh sebelum sampai di rumah. Ini bukan menjadi hal yang biasa. Lamia bergegas masuk, barangkali ada kabar buruk atau kabar penting yang harus ia ketahui.



Babak II

Namun Lamia merasa bingung, apa yang dilihatnya sesampai di rumah, tas dan koper semua sudah berjejer rapi di ruang tamu. Ia menanyakan sesuatu kepada ayahnya. Kemudian ayahnya mengatakan bahwa dia dan ayahnya harus pergi dari rumah karena rumahnya disita oleh Bank. Ia diajak ke desa, dan ditawari agar buku-buku yang banyak di rumahnya terjual untuk dapat membeli rumah di desa. Ternyata Lamia tidak menyetujui. Berbagai alasan yang dikemukakan ayahnya untuk membujuk Lamia. Hingga akhirnya Lamia mengiyakan pendapat ayahnya. Ayah Lamia sangat sayang kepada Lamia. Agar Lamia sedikit terhibur ayah Lamia mengajaknya jalan-jalan menyusuri gurun hingga sampai di desa tempat tinggalya.

Babak III

Ayahnya meronta kesakitan, karena penyakitnya yang di derita kambuh. Hingga ayahnya meninggal. Lamia sangat sedih menjadi hiup sebatang kara.

SKENARIO:

Ext. sekitar depan rumah-siang

Disuasana yang terik. Musim dingin, di Surabaya, sosok Ayah melambai-lambaikan tangannnya dari atas lantai 2 rumah. Ayah itu melambaikan tangannya kepada anaknya yang terlihat dari kejauhan sedang berjalan kaki menuju rumah.


CUT TO:

Judul : Lamia

Tulisan : 2010

LAMIA

(sambil lari-lari dari kejauhan)

(ngos-ngosan, kecapekan)

Kecapaian yang amat terasa bagi Lamia sepulang dari sekolah. Semakin dekat Jarak dengan rumah.

CUT TO:

INT. DI DALAM RUMAH- SIANG

Ayah meminta Lamia untuk menghampirinya lebih cepat. Kemudian Lamia lari setelah tahu panggilan ayahnya.

AYAH

Lamia,

Kemarilah,Cepaaaaat


AYAH

Mandilah dahulu…

Ayah sudah mandi?

Sudah mandi. Hingga beberapa saat setelah rumahnya semua kopor terlihat dari rumah. Ia menanyakan kepada ayahnya perihal tas kopornya tersebut dikeluarkan



LAMIA

Ayah, ada apa ini?

Mengapa tas kopornya di keluarkan?

Kita mau kemana Yah?

AYAH

Kita akan pergi Lamia. Di desa. Karena sudah beberapa bulan kita belum pernah jalan-jalan.

(namun wajah ayah masih terlihat murung)

LAMIA

Ke desa, ada apa Yah, kok tiba-tiba mendadak pergi?

(Lamia terus penasaran dengan keputusan ayahnya yang tiba-tiba)

Ayah, sebenarnya ada apa?


AYAH

(diam saja)



LAMIA

wajah ayah tak bisa membohongiku, ada apa sebenarnya Ayah? Kita di desa tidak punya keluarga, semua keluarga di kota Yah. Kakek nenek, bude, tante juga semua ada di kota? Ada apa Yah sebenarnya?

AYAH

…Lamia, kita akan pindah. Rumah ini sudah disita Bank..

LAMIA

(Terperangah) Tapi Kenapa Yah?

AYAH

Perusahaan ayah bangkrut, ayah terkena tipu oleh salah satu rekan kerja ayah di kantor

LAMIA

Ha… kenapa bisa begitu Yah?

Kenapa ayah tidak bilang ke Lamia sebelumnya..agar dapat dibicarakan bersama keluarga, kakek, nenek juga harus tahu


AYAH

Sudahlah Lamia, Ayah tidak mau membuat kau, nenek, dan kakek terlalu banyak pikiran. Biar Ayah saja yang memikirkannya. Ayah tidak mau semua beban Ayah membuat nenek dan kakek sakit. Mereka kan sudah mulai terkena penyakit Jantung. Ayah hanya tidak mau membuat mereka semakin parah penyakitnya.

LAMIA

Baik Ayah…

(tidak banyak bertanya, takut ayahnya semakin sedih)

Ya sudah ayah, tidak apa-apa..


AYAH

Anakku, buku-buku yang pernah kita punya itu, ayah jual ya, agar dapat membayar uang rumah kos kecil-kecilan di desa

LAMIA

(Lamia jadi tampak sedih) maaf, yah bukannya Lamia keberatan. Tapi buk-buku yang mana? Semua buku-buku itu hasil tabungan ayah sewaktu kuliah dulu kan Yah..lalu itu juga ada buku koleksi Ibu waktu muda dulu sampai sebelum meninggal. Kita semua mengumpulkan buku-buku itu dengan susah payah Yah.

Ayah, tidak adakah pilihan lain untuk selain menjual buku?

AYAH

Ada, tapi ya tidak cukup untuk menyicil rumah di desa?

Kalau tidak begitu, lalu kita pakai uang apa sayang, untuk bisa menyewa rumah di desa. Ayah sekarang tidak pegang uang apa-apa Lamia. Nanti kita dapat membeli buku yang baru dan lebih bagus lagi setelah ayah bekerja di desa.

Rumah itu dijadikan kediaman sementara. Ayah yakin semua akan kembali seperti semula. Kita kembali dari nol. Jangan khawatir, Nak…

LAMIA

Ya sudah Yah, Baiklah kalau begitu…tidak mengapa yah, semoga kita berhasil ya Yah…

AYAH

Iya, Nak..semoga kita berhasil. (Dengan tampang optimis)

CUT TO:

ENT. DI LUAR RUMAH-SIANG MENJELANG SORE

Mobil telah disiapkan supir, sebagai tanda berakhirnya kehidupan Lamia dan ayahnya menjadi orang terpandang dan kaya.

Lamia tetap terlihat tabah dalam menghadapi keinginan ayahnya. Ia tahu bahwa itu yang menjadi bukti bahwa Lamia menjadi anak yang berbakti kepada orang tua

AYAH

Lamia,….cepat bawa kopernya?

Jangan sampai ada yang tertinggal ya…


LAMIA

Ia Yah…!!

CUT TO:

ENT. DI JALAN RAYA- MENJELANG SORE

Hujan yang menetes sedikit demi sedikit di atas atap mobil itu sangat terasa. Sambil berbincang-bincang Lamia menanyakan sesuatu ke Ayahnya…



LAMIA

Yah, kenapa kita tinggal saja di rumah nenek di Surabaya,…kenapa perginya harus ke desa. Bukankah, di kota pekerjaan semakin mudah dicari. Dari pada di desa.

AYAH

Sayang, bukan masalah lebih mudah pekerjaan yang di dapat di kota. Namun kita sebenarnya butuh suasana baru, Nak. Di kota banyak sekali orang-orang jahat. Kalau di desa, disana ada ketentraman nak. Masyarakatnya baik-baik dan jujur. Di sana juga udaranya sangat sejuk. Kita nanti bisa refresing disana.

CUT TO:

ENT. DESA JEPARA – MALAM

Sedang menemui satpam, penjaga desa Jepara. Menuju ke penginapan sederhana dan murah. Masih ada sedikit tabungan.

SATPAM

Selamat malam Pak, boleh saya melihat KTP-nya?

tujuannya kemana Pak?


AYAH

Selamat malam Pak, saya mau mencari penginapan, Pak. Apakah betul disini ada penginapan

SATPAM

Oh,ya Pak, ada. Silahkan

CUT TO:

INT. DI DALAM PENGINAPAN ROSSA-MALAM

Terasa berat Lamia dan ayahnya mengangkat salah satu koper yang penting untuk mereka di dalam bakal penginapan. Mereka memasuki penginapan. Kemudian menuju resepsionis.

RESEPSIONIS

Selamat malam Pak, ada yang bisa saya bantu?


AYAH

Iya, betul mbak

Apakah masih ada tempat yang kosong?

RESEPSIONIS

Masih ada Pak. Di kamar 305

Di sebelahnya Nampak seorang Ibu-Ibu pemilik penginapan memandang sinis kepada Lamia. Lamia merasa kebingungan. Apa yang terjadi pada dirinya hingga wanita di sebelahnya memandangnya dengan pandangan sinis. Melihat Lamia dengan pakaian kusut karena seharian tidak mandi.

LAMIA

Malam…

Menyapa dengan mulut menyinyir

(tanda tak paham)

Namun Nyonya itu tetap diam saja dan memandangnya dengan pandangan lain.

CUT TO:

INT. DI DALAM PENGINAPAN ROSSA, DI RUANG MAKAN-MALAM

Nyonya yang semalaman ditemui Lamia, sekarang berubah ekspresi. Ia tersenyum kepada Lamia dan ayahnya…


NYONYA

Bapak, silahkan mencicipi hidangannya

LAMIA

Mencibir, ini nasi gorengnya kurang asin!!

Tanda balas dendam dan gurauan Lamia..


NYONYA

Mari mbak, saya ganti dulu

(sambil mengangguk dengan nada sedikit culas)

Lamia tak memahami terhadap wanita itu, baru saja tadi malam menginap, dan bersikap kurang menyenangkan terhadap Lamia, mengapa tiba-tiba wanita tadi memandang Lamia dengan pandangan sinis. Tiba-tiba berubah menjadi baik. Apakah setelah melihat KTP ayah dalam diresepsionis..ayah yang menjadi direktur PT Persada Raya…

Dulu..kini bukan lagi..

LAMIA

Dalam hati: orang itu sungguh aneh

Ya. Mungkin setelah melihat KTP ayah dan tahu kerja ayah

dulu(tapi..ah) biarkan saja. Aku tak mau menduganya

(mencibir sendiri)

CUT TO:

EXT. DI TAMAN DESA, DEPAN PENGINAPAN ROSSA-PAGI

Udara yang sejuk telah membawa Lamia merasa lebih segar. Ia meghirup oksigen sedalam-dalamnya tanda kepuasan pada sang Khaliq. Kemudian ia berlari-lari kecil dengan menaikkan serta menyampingkan tangan dan kakinya. Ia merasa lebih baik ototnya setelah olahraga. Lamia melupakan sedikit masalahnya.

LAMIA

Ayah, ayah tidak mau ikutan? (dengan ceria)

AYAH

Tidak Lamia, ayah minum kopi saja di dalam rumah, agar lebih nikmat

LAMIA

(Sambil tersenyum bangga dengan ayahnya) dan bentuk terima kasih kepada ayahnya karena telah membesarkan dirinya hingga sekarang.

CUT TO:

INT. DI DALAM PENGINAPAN-PAGI MENJELANG SIANG

Ayah Lamia mengajak Lamia untuk pergi mencari rumah yang cukup untuk dua orang.

AYAH

Lamia, setelah ini kamu siap-siap ya,

Kita cari rumah untuk tempat tinggal dan setelah itu ayah akan mencari kerja.


LAMIA

baik, ayah!

(sambil tersenyum bangga)


kemudian ayahnya mencari kerja. Ayah berkenalan dengan seorang penduduk desa hingga terlihat akrab.

Ternyata karena tahu asal dari kota, maka penduduk desa pun tahu, mereka menyambut dengan bahagia. Dan akhirnya ayah Lamia dipercaya untuk menjadi pengajar di salah satu sekolah di desanya.

CUT TO:

Layar Hitam

Ayah Lamia telah berhasil membuat Lamia menjadi seorang Sarjana. Hingga Lamia dapat bekerja di lembaga penelitian. Ayah Lamia bangga terhadap putri cantiknya itu.

Namun Tuhan berkehendak lain, Ayah Lamia meninggal setelah 4 tahun tinggal karena jantung. Dan akhirnya Lamia mendapat jodoh orang sana.

Minggu, 05 Desember 2010

“Astri Gadis yang Jujur dan Suka Menolong”

Suatu hari ditengah pasar, saat Astri berbelanja dengan Ibunya, ia menemukan sebuah dompet. Astri tidak tahu apa yang harus Astri lakukan terhadap dompet itu. Lalu dengan rasa bimbang dompet itu ia masukkan kedalam tas plastik perbelanjaannya.
Tiba-tiba saat dirumah, saat membuka semua barang perbelanjaan dikeluarkan, Ibunya bertanya kepada Astri, “Dompet siapa ini Astri”. Dengan tergagap dan rasa bingung ia menjawab..”A…anu..Bu, tadi kutemukan di jalan waktu Ibu sedang berbelanja sayuran”. Kemudian dengan perasaan yang tidak enak. Ibu Astri bertanya lagi kepada Astri…”Lalu kenapa kamu tidak bilang jika menemukan sebuah dompet di pasar, jika tadi ngomong khan Ibu bisa langsung menyampaikan ke pos satpam, dan langsung diumumkan disana. Nah …kalau begini gimana Astri?”
“Maaf Ibu, tadi Astri benar-benar bingung…karena takut jika banyak orang yang tahu Astri membawa dompet yang banyak uangnya, pasti ada orang jahat yang akan mengikuti Astri..sungguh Bu, Astri tadi kebingungan” kata Astri.
“Ya sudah kalau begitu Astri, besok kamu ikut Ibu ke pasar lagi ya. Nanti langsung Ibu antar ke Pos Satpam pasar. Agar langsung diumumkan..” kata Ibu
“Baik Ibu…”kata Astri
Keesokan harinya ketika Astri berbelanja, bersama Ibunya, ia langsung mengembalikan dompet yang ia temukan kemarin.
Astri merasa lega akhirnya ia bisa mengembalikan barang yang telah membuat dirinya gelisah…
Tiga hari kemudian setelah Astri mengembalikan dompetnya di pos satpam pasar, ada seorang Ibu-ibu bertanya kepada tetangga. “Apa betul disini ada anak perempuan yang berrnama Astri” Tanya Bu Nunik kepada tetangganya. “Betul Ibu, ada” jawab salah tetangganya yang bersebelahan dengan rumah Astri.
Ketika itu, memang Astri sedang berdiri sambil menyiram tanamannya di halaman rumahnya. “wah kenapa ibu cantik itu sepertinya mau kesini ya”. Dengan lembut akhirnya Ibu itu bertanya “Apa benar ini rumah Astri?” , “Benar Bu….saya sendiri” jawab Astri..

“Perkenalkan, saya ibu pemilik dompet yang Astri temukan di Pasar tiga hari yang lalu, nama saya Nunik. Saya mau berterima kasih kepada Astri karena Astri telah mengembalikan dompet Ibu. Di dalam dompet itu ada surat yang penting yang harus urus. Ibu tidak tahu harus bagaimana jika surat itu tidak ada, terima kasih ya Astri”.tutur Bu Nunik

Seketika itu Astri terperanjat, ia bersyukur ternyata ia telah membuat orang lain tersenyum dengan mengembalikan barang berharga…”Alhamdulillah…”kata Astri dalam hati. “Sama-sama Ibu, Astri juga berterima kasih” jawab Astri.

Akhirnya Ibu itu berpamitan pulang dan memberi kotak. Lalu saat Astri masuk di rumahnya, ia membuka kotak Pemberian Bu Nunik. Astri sangat bahagia, ternyata kotak itu berisi sepatu bru yang selama ini ia ingin membelinya.

Ketika Ibu Astri melihatnya, dan Astri menceritakan selama dia berada di halaman rumahnya, ibu Astri pun tersenyum bahagia.
Sejak pengalaman Astri itulah, akhirnya ia akan berusaha menjadi anak yang jujur dan suka menolong orang lain.

Jumat, 12 November 2010

NILAI BUDAYA TRADISI LISAN PARIKAN JAWA

Oleh
Yuneni Novikawati
072144043

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pada era globalisasi ini negara-negara maju sangat mudah sekali memengaruhi negara-negara berkembang dalam segala aspek kehidupan, karena mempunyai keunggulan teknologi. Masuknya teknologi dari negara maju ke negara berkembang ikut masuk kebudayaan ke negara maju tersebut yang sangat memengaruhi perilaku negara-negara berkembang. Dengan demikian bangsa Indonesia yang termasuk masyarakat Jawa mengalami pergeseran budaya. Kebergeseran budaya dengan teknologi membuat hilangnya keaslian budaya pada masyarakat. Budaya tersebut di dalamnya termasuk dalam budaya parikan yang sejak zaman dahulu menjadi salah satu budaya yang sama-sama dirasakan.
Saat dalam konteks Indonesia yang dijajah Belanda selama 350 tahun merupakan siasat Belanda dalam merebut kekayaan yang ada di dalam negara Indonesia termasuk yang di dalamnya mengandung nilai sejarah yang tinggi terhadap nilai luhur negara Indonesia. Bangsa Indonesia pada saat itu dibodohi dengan berbagai teknologi yang dibawa serta menjejalinya kepada bangsa Indonesia pribadi. Jika dilihat lebih lanjut, pada bangsa Jepang yang memiliki kebudayaan dan memegangnya secara erat meskipun teknologi pada bangsa tersebut sangat maju, namun dibalik itu semua yang menjadi pertanyaan bahwa mengapa bangsa Indonesia yang dinamakan negara maju sangat mudah sekali terpengaruh kepada budaya dan teknologi asing, sehingga kebudayaan sendiri tergeser bahkan tidak banyak yang diminati pada masyarakat sekarang.
Dijelaskan lebih lanjut, bahwa Parikan adalah bunyi yang terdiri atas dua ukara (bagian) yaitu untuk narik kawigaten, maksudnya adalah menarik perhatian dan yang kedua adalah minangka isi (yaitu sebagai isi). Parikan merupakan karya manusia yang seperti pantun tapi hanya terdiri dari dua larik. Parikan menggunakan purwakanthi swara yaitu dasar untuk menunjukkan perhitungan dalam wanda atau suku kata. (wikipedia: Parikan)
Parikan adalah bagian dari tradisi lisan, budaya lisan dan adat lisan yang didefinisikan sebagai adalah pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pesan atau kesaksian itu disampaikan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasehat, balada, atau lagu.
Berdasarkan fenomena tersebut maka dengan judul Representasi Tradisi Lisan Parikan Jawa terhadap Nilai Budaya Masyarakat Jawa (Kajian Formula dalam Penceritaan Foklor dalam Teori Parry-Lord) menjadi penelitian yang menarik sehingga dapat diketahui formula struktur penceritaan yang ada di dalam pantun tersebut sehingga akan ditunjukkan bahwa di dalam parikan memiliki nilai moral yang harus tetap menjadi budaya masyarakat Jawa.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang ditemukan adalah
1. Bagaimana bentuk parikan yang harus diketahui oleh masyarakat Jawa sebagai wujud tradisi lisan terhadap nilai budaya masyarakat Jawa?
2. Bagaimana unsur formula yang ada di dalam parikan sebagai tradisi lisan terhadap nilai budaya masyarakat Jawa?
C. Tujuan
Penulisan ini bertujuan untuk,
1. Menghasilkan deskripsi tentang bentuk parikan yang harus diketahui oleh masyarakat Jawa sebagai wujud tradisi lisan terhadap nilai budaya masyarakat Jawa
2. Menghasilkan deskripsi tentang unsur formula yang ada di dalam parikan sebagai tradisi lisan terhadap nilai budaya masyarakat Jawa

D. Manfaat
a) Manfaat teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu sosial dan linguistik

Manfaat praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi semua kalangan, diantaranya:
a. Bagi peneliti foklor, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan literatur tambahan dalam penelitian wacana.
b. Bagi guru bahasa dan sastra Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan wawasan mengenai budaya lisan yang terdapat di dalam masyarakat.
c. Bagi masyarakat secara umum, hasil penelitian ini dapat sebagai pencerahan bahwa begitu pentingnya mempertahankan buda masyarakat jawa Timur, khususnya tradisi lisan bentk Parikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
1. Analisis Struktural Cerita Tundung Madiun dai Ketoprak Mataram sera Sumbangannya terhadap Pendidikan dan Kesusasratraan di Indonesia oleh Retno Banowati pada tahun 1991
2. Cerita Ludruk ’Sarip ambak Yoso’ dan Sumbangannya teradap perkembangan sastra serta pendidikan di Indonesia oleh Endag Sulastri tahun 1991

B. Teori Yang Digunakan
Komposisi teori Tukang cerita/pencerita dalam menuturkan ceritanya tidak pernah penuh-penuh terikat pada teks mula yang pernah didengarnya. Bagian yang tetap adalah inti cerita, sedangkan selebihnya tidak pernah tetap (Lord, 1976:99). Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Sweeney (dalam Teeuw, 1984:301) bahwa setiap pementasan atau penuturan merupakan parafrasis naskah induk yang imajiner.
Lord dalam Sudikan (2001: 80) merumuskan dalam bukunya The Singer o Tales yang membahas tentang lima hal yaitu: (1) hubungan antara menciptakan, menyanyikan, dan memertunjukkan, (2) formula, (3) tema, (4) teks asli, (5) hubungan antara versi tertulis dan lisan.
Formula oleh Lord dalam Sudikan (2001: 80) dikatakan ialah kata yang secara teratur dimanfaatkan oleh mantra yang sama untuk mengungkapkan satu ide hakiki. Dengan penyusunan baris dengan pola formula itu terjadi proses penggantian, kombinasi, pembentukan model, dan penambahan kata atau ungkapan baru pada formula sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan temuan di atas, maka penelitian ini sejalan dengan konsep rumusan atau simpulan yang diungkap oleh Nani tuloli dalam Sudikan (2001:80) menyatakan bahwa formula ialah unsur linguistik (afiks, kata, frasa, klausa, baris, dan struktur) yang dipakai dalam pola sintaksis dan ritme tertentu serta posisi tertentu. Pola formula ialah pola baris yang mengikuti sistem sintaksis dan ritme tertentu yang dipakai untuk menciptakan baris formulaik yang salah satu unsurnya adalah sama.
Dengan demikian, maka disimpulkan bahwa penelitian ini menggunakan teori Lord mengenai formula yang ada di dalam parikan dengan mengungkapkan bentuk (dalam hal ini) di ungkap tentang sampiran dan isi yang terkandung di dalam parikan (pantun Jawa).

C. Parikan (Pantun)
Definisi parikan ialah tradisi lisan, budaya lisan dan adat lisan adalah pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pesan atau kesaksian itu disampaikan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasehat, balada, atau lagu. Pada cara ini, maka mungkinlah suatu masyarakat dapat menyampaikan sejarah lisan, sastra lisan, hukum lisan dan pengetahuan lainnya ke generasi penerusnya tanpa melibatkan bahasa tulisan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Tradisi_lisan)
Definisi lain, Parikan iku unen-unen kang dumadi seka rong (2) ukara. Ukara sepisanan kanggo narik kawigaten, kang kapindho minangka isi. Parikan iki kaya pantun nanging mung rong larik. Parikan migunaake purwakanthi swara. Purwakanthi parikan bisa digawe mawa petungan kang adhedhasar petungan wanda (suku kata). http://jv.wikipedia.org/wiki/Parikan
Parikan adalah bunyi yang pada bagian pertama sebagai sampiran atau penentu suara, kedua adalah berupa isi. Diungkap dalam bahasa Jawa,
Parikan yaiku ‘unen – unen rong perangan perangan (bagian) kapisan kanggo pancandan (sampiran) (kanggo pentokaning swara), dene perangan kapindho mawa teges (merupakan isi) kang dikarepake.’
Parikan adalah bunyi yang terdiri atas dua bentuk yang pertama untuk menarik perhatian yang berupa sampiran dan yang kedua berupa isi.
Parikan yaiku unen-unen kang dumadi seka rong (2) ukara. Ukara sepisanan kanggo narik kawigaten, kang kapindho minangka isi. Parikan iki kaya pantun nanging mung rong larik. Parikan migunaake purwakanthi swara. Purwakanthi parikan bisa digawe mawa petungan kang adhedhasar petungan wanda (suku kata). http://jv.wikipedia.org/wiki/Parikan
Peran pantun (parikan) sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang eharusnya, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.
Parikan ada dua warna, (dua jenis) yaitu
1. Terdiri atas 2 kalimat yang bersajak.
2. Saben saukara kedadean saka rong gatra (larik). Dalam hal ini adalah bentuk parikan panjang
3. Ukara pertama berupa purwaka (sampiran), ukara kedua berupa uwose (isi)

D. Nilai Moral Masyarakat Jawa
Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. [1] Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger. http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa
Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.
Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat. Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.
Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.


BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dirancang secara kualitatif deskriptif yaitu memperoleh gambaran secara nyata terhadap parikan Jawa yang terdapat pada media televisi dan radio. Metode kualitatif memberikan perhatian terhadap data alamiah, data yang berhubungan dengan konteks keberadaannya. Sedangkan data tersebut dianalisis berdasarkan bentuk yang sebenarnya tanpa melepaskan konteks data yang melingkupinya. Dengan metode kualitatif ini, mengenai formula yang ada di dalam parikan atau pantun jawa dapat diungkap dengan baik. Sehingga diharapkan dapat menjadi pemaparan dan nilai budaya masyarakat Jawa.

B. Sumber Data dan Data Penelitian
Sumber data penelitian ini adalah data tertulis yang memuat informasi jenis Parikan dan kajian formula yang terdapat dalam parikan tersebut. Sedangkan data penelitian ini berupa ‘ukara’ atau bentuk yang terdapat pada bunyi parikan.

C. Latar Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2010
Lokasi observasi penelitian ini adalah pada media RRI yang terdapat di kota Surabaya

D. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer pada parikan Jawa yang terdapat pada media elektronik baik televisi maupun radio. Bentuk data yang diambil berupa sampiran dan isi
Berdasarkan langkah awal dalam metode analisis data di atas dilakukan maka untuk teknik pengumpulan data penelitian ini adalah melalui teknik sebagai berikut:
1. Rekam
Teknik rekam ini dilakukan dengan cara meletakkan alat perekam di samping televisi dan Radio saat iklan diputar. Biasanya melalui program televisi lokal yaitu JTV, dan Radio Republik Indonesia
2. Simak
Selain teknik rekam perlu adanya teknik simak. Teknik ini dilakukan untuk memperkuat perekaman dan beberapa iklan lain yang telah terambil datanya.
3. Observasi
Penentuan 3 informan untuk observasi agar sebagai bentuk peyakinan terhadap data tersebut
Dengan menggunakan daftar tanyaan sbb:
a. Apakah Bapak mengenal banyak tentang Pantun-pantun dalam bahasa Jawa?
b. Apa saja pantun Jawa itu?
c. Jenis Pantun Bahasa Jawa adalah?
d. Bagaimana asal-usul cerita parikan tersebut?

4. Koleksi
Observasi yang dilakukan dalam pengoleksian data yaitu dengan mencari literatur sebanyak-banyaknya mengenai fenomena yang ada dengan keterkaitan antara topik yang dibahas dalam parikan Jawa. Pengkoleksian melalui langkah ini sangat diperluka untuk menjaga kesimpang siura informasi yang di dapat dalam Parikan Jawa. Setelah langkah pengoleksian pertama maka langkah selanjutnya dalam pengoleksian adalah pemilahan dalam informasi atau data yang terkandung dalam sampiran dan isi
5. Reduksi data
Pereduksian pada langkah ini dengan menggunakan Kartu Data, yaitu Instrumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah alat dan fasilitas yang digunakan peneliti untuk mempermudah jalannya penelitian dan hasil yang diperoleh lebih lengkap. Bentuk instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu data yang berisi data-data yang diisi sesuai dengan korpus data yang diperoleh dari masing-masing buletin. Langkah pertama dalam penggunaan kartu data adalah memilih data yang memiliki perbedaan dan kesamaan antara buletin satu dengan buletin yang lain, atau setelah terjadi pembedaan maka dilanjutkan dengan buletin satu dengan buletin berikutnya. Pembedaan dan proses pemutaran pada buletin agar dapat teranalisis dengan baik maka dilakukan tersebut dinamakan sistem putar. Sistem putar tersebut berkenaan dengan paragraf, sampiran dan isi dalam parikan Jawa
6. Klasifikasi data
Pengklasifikasian pada data yang telah diperoleh dan dimasukkan ke dalam kartu data, maka untuk mempermuda kartu tersebut dibedakan dalam warna kartu yang berbeda.

D. Teknik Analisis Data

Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, maka Penelitian ini dianalisis dengan
1. Teknik pilah kartu data
Kartu data ke dua setelah kartu data pertama sebagai penyediaan data. Pada kartu data analisis ini adalah dengan memisahkan dan menentukan data mana saja yang layak diteliti yaitu pada paragraf, sampiran dan isi parikan Jawa. Data yang telah diperoleh kemudian akan dikelompokkan dan dihitung dalam masing-masing sampiran dan isi pada parikan Jawa
2. Teknik pilah pembeda larik
Membedakan hasil pilah pada teknik pertama dengan pemilahan pada buletin selanjutnya. Penelitian ini tidak hanya meneliti pada satu buletin saja melainkan berjumlah sepuluh buletin yang disesuaikan dengan urutan penerbitan.

Transformasi Keteladanan Pengabdian Priai Jawa

Pendahuluan
Novel, sebagai salah satu genre sastra, digunakan oleh Umar Kayam untuk merasakan dan menafsirkan kembali hidup dan kehidupan (Kayam dalam Rahmanto, 2004: vii)
Selalu saja setiap pengarang memiliki maksud. Pengarang bebas mengapresiasi karyanya dari proses kehidupannya untuk menunjukkan kepada masyarakat tentang hidup dan kehidupan. Karya sastra diciptakan berdasarkan imajinasi pengarang. Melalui Novel para Priyayi (yang selanjutnya disingkat novel PP) inilah Umar Kayam ingin menunjukkan kepada pembaca mengenai makna kehidupan seorang priai.
Sesungguhnya penelitian novel PP sudah banyak diteliti oleh banyak orang, baik dalam makalah, skipsi, tesis, maupun penelitian yang lain. Diantara beberapa penelitian yang dilakukan banyak orang, tokoh besar, novel PP yang pernah diteliti oleh Daniel Dhakie (1992 dan 1998), Sapardi Djoko Damono (1992 dan 1998), Mochtar Pabottingi (1992) yang kesemuanya memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mengapresiasinya. Maka selanjutnya akan diulas sedikit mengenai beberapa analisis yang mereka tampilkan.
Di dalam buku Rahmanto dijelaskan bahwa menurut Daniel Dhakie (kompas dalam Rahmanto 2004:63) khususnya yang berkaitan dengan cara penyajian karyanya, Umar Kayam sendiri menurutnya mengalami suasana yang serba mendua dalam penulisannya, disisi lain Dhakie menunjukkan keraguan dalam kata bantu dalam dua jenis sejak awal. Jenis pertama seperti konon, mugkin, menurut cerita, alkisah, dsb. Sedangkan Damono (Tempo dalam Rahmanto, 2004: 640) dalam melihat adanya ketegangan kreatif antara kepakaran ilmu sosial dan imajinasi sebagai sastrawan pada novel PP. dan beberapa peneliti yang lain. Damono menambahkan bahwa sebenarnya Umar Kayam menulis buku sosiologi Jawa dalam bentuk fiksi. Sebab, dengan menulis fiksi, ia bebas mengembangkan teori sosiologinya. Sedangkan Pabottingi yang menekankan bahwa Umar Kayam berhasil membuktikan bahwa sastra mampu menangkap kehidupan secara utuh, dapat mengungguli Karya Ilmiah, meskipun karya Ilmiah memiliki nilai plus tersendiri.
Beberapa pendapat di atas digunakan sebagai masukan dan wawasan bahwa sebenarnya banyak sekali penelitian atau berupa pengamatan pada novel PP. oleh karena itu, maka artikel ini akan disinggung mengenai Transformasi Keteladanan Pengabdian priai.
Aspek keteladanan pengabdian priai Jawa dalam novel PP sangat kental. Dari cerita dari penelusuran segi makna kehidupan yang diulas, seketika muncul ini sesungguhnya teladan yang harus di transformasikan kepada para kaum priyayi yang ada pada masyarakat.
Aspek keteladanan pengabdian tersebut muncul dalam tokoh-tokoh seperti Sastodarsono, Noegroho, Hardojo, dan Lantip. Yang diulas dalam novel PP ini, bukanlah sosok priai pada umumnya, seperti priai yang kini memiliki jabatan tinggi, orang kaya atau orang yang terpandang karena keturunan priai pula, namun priyayi disini adalah priyayi yang datang dari kalangan rendah yakni orang-orang yang ingin menjadi priyayi namun berjuang melalui proses pengabdian. Priai dalam novel PP adalah priai yang terpandang karena kemampuannya menjadi seorang guru atau karena memiliki kesederhanaan. Oleh karena itu untuk pembahasannya akan dikaji melalui pendekatan Hermeneutik.
Menurut Yuwono (2007: 62) dalam Paul Recoeur mengatakan bahwa strategi terbaik dalam mengkaji teks falsafah dan sastra adalah mengkaji menggunakan strategi hermeneutik. Di pihak lain Gadamer dalam Yuwono (2007:64) menjelaskan bahwa hermeneutika :1) menerangkan bagaimana sesuatu yang ada dalam teks dapat menyatu dengan pemahaman kita, yang caranya adalah ditempuh dengan prasangka; 2) penggunaan kaidah hermeneutika memungkinkan kita melihat pengetahuan dan objek pengetahuan berubah atau mengalami transformasi, 3) dalam menafsir sebuah karya seni tidak diragukan bahwa kita juga menciptakan sebuah hubungan karya seni. Cara menciptakan hubungan itu dilakukan dengan menukar dunia yang akrab dengan dunia yang disajikan oleh karya yang kita kaji.
Pembahasan : Transformasi Keteladanan Pengabdian Priayi
Sebelumnya, konsep pengabdian priyayi pada masyarakat luas dalam masyarakat Jawa adalah suatu latihan yang berupa mengabdikan diri di rumah seorang priyayi terkemuka (Rahmanto, 2004:91).
Transformasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi) atau perpindahan.
Dalam novel PP, pengabdian seorang priyayi secara tersirat dipaparkan melalui nama Soedarsono yang diberikan oleh Ndoro Sten dianggap sebagai nama yang terlalu berat. Padahal Ndoro Seten memberikan nama itu karena keluarga Atmokasan (Petani desa) telah akrab dengan Ndoro Sten. Embok merasa takut dan bimbang. Nama yang berat hanya diperuntukkan oleh masyarakat Priyayi saja. Hal ini dapat ditransformasikan dengan melihat orang-orang desa pada umumnya pada zaman dahulu menamakan anak-anak mereka dengan nama desa. Mereka juga menganggap bahwa kedudukan mereka sebaga petani desa hanya seimbang dengan nama yang biasa pula. Ketakutan mereka terhadap nama itu sama dengan ketakutan yang embok rasakan. Yaitu kekhawatiran yang terlalu berat namanya terhadap takdir umur yang pendek.
……..menurut Embok sesungguhnya ia ingin memberi nama Islam (meskipun kami tidak sembahyang) seperti Ngali atau Ngusman. Bukankah nama Bapak saya juga Kasan? Tetapi Bapak saya, meyakinkan Embok untuk menerima saja pemberian nama itu. Embok masih bimbang, takut jangan-jangan nama ini nama yang terlalu berat untuk bayi seorang anak desa. Jangan-jangan jadi pendek umur anak itu nanti, begitu kekhawatiran Embok. Tetapi, Bapak terus membujuk dan menyakinkan Embok bahwa tidak usah khawatir untuk mengalami bencana itu. “Wong Paringan, hadiah dari priayi kok dikhawatirkan, “tutur Bapak. “Mestinya baik, “tandas Bapak lagi (Kayam, 1992:31).

Namun Akhirnya, berkat pengabdian Atmokasan pada Ndoro Seten Kedungsimo juga memiliki arti penting yang diterimanya Soedarsono di sekolah desa sehingga ia berhasil lulus dan dapat diterima sebagai seorang guru bantu. Soedarsono memang tidak mengabdikan dirinya secara langsung kepada Ndoro Seten Kedungsimo, tetapi pengabdian sebenarnya dapat dipandang sebagai penggantinya.
Le, bapakmu ini wong tani ndeso. Jadi, saya melihat persoalanmu ya seperti seorang tani melihat persoalan. Kita ini semua rak sesungguhnya wong cilik saja to, le. Wong cilik yang diperintah gupermen. Lha sebagai wong cilik ya semestinya manut, menurut aturan gupermen begitu. Kalau tidak manut itu rak salah to, Le. Kalau menurut aturan gupermen yang dikerjakan mantri gurumu itu salah, ya salah, Le. Lha, kalau menurut gupermen kamu diperintahkan mengganti dia, ya kamu harus terima, Le. Mosok kamu mau menolak apalagi melawan? tapi, ini pendapat bapakmu wong tani wutun, jekek, asli, murni lho, Le. Cobalah kalau kamu sowan Ndoro Seten, wah saya belum bisa memanggil beliau dengan kamas itu, le, kamu minta pendapat beliau. Eh, lha mertuamu bagaimana pendapatnya” (Kayam, 1992:61)

Masyarakat Jawa pada saat itu telah mengalami suatu perubahan. Pada awal abad ke-20, Belanda telah berhasil membuat Hindia-Belanda menjadi suatu Negara yang apolitik (tidak berminat pada politik), yang mengandalkan dinamikanya birokrasi (system pemerintah yang dijalanka pegawai pemerintah karena berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan) (Kayam, 1989:14). Di Jawa pada saat itu telah berkembang suatu elite birokrasi yang disebut priai yang berasal dari kelompok keturunan bangsawan maupun keturunan orang biasa yang beruntung mendapat pendidikan sekolah desa. Dalam perkembangan selanjutnya, menurut Kayam (1989:20-21) ada diantara kelompok ini yang memiliki idealism yang membuka perspektif sebagai priai yang berpikiran maju dengan mendirikan perkumpulan Budi Utomo yang dipelopori oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo.
Penutup
Maka Transformasi Keteladanan Pengabdian Priai Jawa terhadap Novel PP sangat kental. Antara kehidupan nyata pada masa pembuatan novel PP menjadi relasi antara Pengabdian Priai Jawa dan Petani desa.